Kalau ditanya kenapa minum kopi di pagi hari, sebagian besar orang akan menjawab Biar semangat atau Biar mood-nya bagus.
Jawaban ini bukan hanya jawaban biasa, namun dari data yag kami tmukan memang ada hubungan antara kopi dengan kesehatan mental.
Diartikel kali ini akan kita bahas tentang apakah benar kopi biki mood lebih baik.
Simak selengkapnya berikut ini.
Kopi Pagi Memang Bikin Lebih Bahagia
Pada Agustus 2025, peneliti dari Bielefeld University (Jerman) dan University of Warwick (Inggris) mempublikasikan studi penting di jurnal Scientific Reports yang menjawab pertanyaan ini secara langsung.
Studi yang melibatkan 200 orang dewasa muda selama empat minggu menemukan konsumsi kafein — khususnya di pagi hari berkaitan erat dengan peningkatan signifikan dalam mood positif seperti rasa bahagia dan antusias, sekaligus sedikit mengurangi emosi negatif seperti kesedihan.
Efek ini jauh lebih kuat di pagi hari dibanding waktu lain.
Yang menarik dari temuan ini, efeknya tidak hanya berlaku pada pecandu kopi berat bahkan peminum kopi biasa mengalami peningkatan mood yang terukur setelah secangkir kopi pagi.
Baca Juga : Kenapa Kopi Pagi Terasa Beda dari Kopi Siang?
Apa yang Terjadi di Otak Saat Minum Kopi?
1. Kafein dan Sistem Dopamin
Kafein bekerja dengan memblokir reseptor adenosin, yang dapat meningkatkan aktivitas dopamin di area kunci otak efek yang dikaitkan dengan peningkatan mood dan kewaspadaan yang lebih besar.
Dopamin adalah neurotransmitter yang sering disebut sebagai “molekul motivasi” — ia berperan dalam perasaan reward, kesenangan, dan antusiasme.
Ketika aktivitas dopamin meningkat, kamu merasa lebih termotivasi, lebih positif, dan lebih siap menghadapi hari.
2. Kafein dan Serotonin
Kafein dapat menstimulasi pelepasan serotonin (5-HT) di sistem limbik dan mendorong pelepasan dopamin di prefrontal cortex, menghasilkan efek yang mirip dengan obat antidepresan.
Serotonin adalah neurotransmitter yang berperan dalam regulasi mood, tidur, dan nafsu makan.
Rendahnya kadar serotonin dikaitkan dengan depresi sehingga kemampuan kafein untuk menstimulasi pelepasannya menjadi mekanisme yang relevan secara klinis.
3. Kopi dan Risiko Depresi
Berbagai studi epidemiologi telah meneliti hubungan antara konsumsi kopi dan gangguan mood seperti depresi.
Temuan umumnya menunjukkan bahwa konsumsi kopi moderat dikaitkan dengan risiko lebih rendah untuk mengalami depresi.
Sebuah meta-analisis studi observasional menemukan bahwa individu yang mengonsumsi 2–3 cangkir kopi per hari memiliki risiko depresi yang jauh lebih rendah dibanding yang tidak mengonsumsi kopi.
Batas yang Perlu Diperhatikan
Meski bukti ilmiah mendukung manfaat kopi untuk mood, penting untuk memahami batasannya.
a. Kafein bukan pengganti penanganan klinis.
Bagi yang mengalami depresi klinis atau gangguan kecemasan, kopi adalah pelengkap bukan pengganti penanganan medis yang tepat.
b. Konsumsi berlebihan bisa berdampak sebaliknya.
Mekanisme regulasi kafein pada pelepasan dopamin masih kontroversial dan konsumsi berlebihan bisa menghasilkan efek yang berlawanan, termasuk peningkatan kecemasan dan irritabilitas.
c. Toleransi berkembang seiring waktu.
Tubuh beradaptasi dengan kafein artinya efek mood-boosting yang sama membutuhkan dosis yang meningkat seiring waktu pada peminum reguler.
d. Efek bergantung pada waktu konsumsi.
Seperti yang ditunjukkan oleh studi Bielefeld University, efek mood terkuat ada di pagi hari. Kopi yang diminum terlalu sore justru bisa mengganggu tidur dan berakhir memperburuk mood keesokan harinya.
Baca Juga : Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi? Simak Berikut Ini!
Panduan Minum Kopi untuk Mendukung Mood yang Optimal
Berdasarkan semua bukti di atas, ini adalah panduan praktis:
a. Minum 2–3 cangkir per hari.
Ini adalah rentang yang paling banyak dikaitkan dengan manfaat mood dan kognitif dalam literatur ilmiah, tanpa risiko efek samping yang signifikan.
b. Prioritaskan cangkir pertama di pagi hari.
Setelah 90 menit dari bangun tidur ketika kortisol mulai turun dan efek kafein paling optimal.
c. Pilih arabika atas robusta.
Arabika mengandung lebih sedikit kafein tapi lebih kaya senyawa antioksidan dan polifenol lebih baik untuk konsumsi jangka panjang yang terkait manfaat kesehatan mental.
d. Minum tanpa gula berlebihan.
Lonjakan gula darah dari kopi manis (kopi sachet, kopi susu dengan gula banyak) bisa memperburuk mood dalam jangka pendek setelah puncak gula darah berlalu.
e. Perhatikan pola tidur.
Mood yang baik sangat bergantung pada tidur yang cukup dan kafein yang dikonsumsi terlalu sore mengganggu keduanya.
Pilihan Terbaik untuk Ritual Harian
Kalau kopi memang punya manfaat untuk mood, logisnya adalah memilih kopi yang paling baik untuk dinikmati setiap hari yang terasa memuaskan, tidak terlalu tinggi kafein, dan punya kualitas yang konsisten.
Arabika single origin seperti Arsuma Coffee dari Gunung Sumbing adalah pilihan yang tepat, kafein lebih rendah dari robusta (sehingga lebih mudah dikonsumsi 2–3 cangkir per hari tanpa overcaffeinate), karakter rasa yang kompleks dan memuaskan (membuat setiap cangkir terasa sebagai reward yang nyata), dan tanpa bahan tambahan yang bisa mengganggu manfaatnya.
Mulai ritual kopi pagi yang lebih bermakna dengan Arsuma Coffee
Referensi:
- Hachenberger J, et al. The association of caffeine consumption with positive affect but not with negative affect changes across the day. Scientific Reports, Agustus 2025. doi:10.1038/s41598-025-14317-0. PMC12325641.
- PMC / MDPI. Exploring the Impact and Mechanisms of Coffee and Its Active Ingredients on Depression, Anxiety, and Sleep Disorders. PMC12526303, Oktober 2025.
- MiBio. The Link Between Coffee Consumption and the Gut-Brain-Mood Axis. mibio.substack.com.
- Translational Psychiatry / Nature. Effects of caffeine on neuroinflammation in anxiety and depression: a systematic review of rodent studies. November 2025.